Kolaborasi KADIN Tangerang Selatan dan APINDO Dorong Peluang Kerja di Era Energi Terbarukan
Tangerang Selatan – Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Kota Tangerang Selatan tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga momentum lahirnya gagasan kolaboratif lintas sektor dalam menjawab tantangan ketenagakerjaan di era transisi energi.
Ketua Kadin Kota Tangerang Selatan, Marhadi, bersama Anggota APINDO, Hendry Suhardja, menegaskan komitmen kuat untuk membangun sinergi antara dunia usaha, asosiasi industri, dan pemerintah dalam menciptakan peluang kerja baru berbasis energi terbarukan.
Dalam wawancara doorstep dengan awak media, Sabtu (2/5/2026), Marhadi menyampaikan bahwa fokus peringatan May Day tahun ini sejalan dengan agenda nasional, yakni pengembangan energi terbarukan sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru.
“Fokus May Day 2026 ini mengarah pada energi terbarukan, sejalan dengan visi pemerintah pusat. Di tingkat daerah, kami akan memperkuat kerja sama antara KADIN, APINDO, stakeholder asosiasi, dan pelaku usaha,” ujar Marhadi.
Peluang Ekonomi dari Kendaraan Listrik
Marhadi menyoroti pesatnya pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik, mulai dari sepeda listrik, motor listrik, hingga mobil listrik, yang membuka peluang bisnis baru, khususnya di sektor jasa perawatan dan servis.
Menurutnya, ketersediaan layanan servis kendaraan listrik saat ini masih terbatas, sehingga menjadi peluang strategis yang dapat dikembangkan bersama.
“Kita melihat potensi besar di sektor ini. Banyak pengguna kendaraan listrik, tapi tempat servisnya masih minim. Ini peluang yang bisa kita garap bersama,” jelasnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak langsung membuang kendaraan listrik yang rusak, melainkan memanfaatkan layanan servis yang ke depan akan diperluas melalui kolaborasi lintas sektor.
Program Pelatihan dan Penyerapan Tenaga Kerja
Sebagai bagian dari strategi pengembangan sektor ini, Kadin dan APINDO akan bersinergi dengan pemerintah daerah melalui Balai Latihan Kerja (BLK) di bawah Dinas Ketenagakerjaan untuk menyiapkan tenaga kerja terampil.
Program pelatihan akan difokuskan pada konversi keahlian, khususnya bagi mekanik konvensional agar mampu menangani teknologi kendaraan listrik.
“Prioritasnya adalah mereka yang sudah punya dasar di bidang bengkel. Tinggal dikembangkan ke teknologi listrik melalui pelatihan dan sertifikasi,” kata Hendry Suhardja.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi tenaga kerja, tetapi juga menjadi solusi konkret dalam menekan angka pengangguran di tengah perubahan industri.
Sinergi Industri dan Pemerintah
Hendry menekankan pentingnya sinergi antara KADIN, APINDO, pemerintah daerah, serta pelaku usaha, termasuk dealer kendaraan listrik, dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan.
Ke depan, direncanakan pembangunan pusat pelatihan sekaligus bengkel terpadu yang menjadi hub kolaborasi antara industri dan tenaga kerja.
“Kalau perlu, kita siapkan satu tempat khusus untuk pelatihan dan praktik langsung. Nanti disinergikan dengan dealer dan pelaku usaha sebagai mitra,” ujarnya.
Menjawab Tantangan Disrupsi Industri
Transformasi menuju energi terbarukan juga membawa konsekuensi terhadap dunia kerja, termasuk potensi pengurangan tenaga kerja di sektor tertentu. Namun, Marhadi menilai kondisi tersebut dapat diantisipasi melalui program reskilling dan upskilling.
“Perubahan ini tidak bisa dihindari. Tapi justru harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk menciptakan jenis pekerjaan baru,” tegasnya.
Ia menambahkan, BLK saat ini telah diarahkan untuk menyesuaikan program pelatihan dengan kebutuhan riil di masyarakat, sehingga hasilnya lebih tepat guna.
Dampak Lingkungan dan Sosial
Selain aspek ekonomi, inisiatif ini juga diharapkan mampu mengurangi dampak lingkungan, terutama dari limbah kendaraan listrik yang tidak terkelola dengan baik.
“Selama ini banyak yang membeli kendaraan listrik, tapi ketika rusak malah dibuang. Ini bisa menimbulkan masalah baru. Maka kita dorong solusi berbasis servis dan perawatan,” kata Hendry.
Momentum May Day 2026 di Tangerang Selatan pun menjadi titik awal penguatan kolaborasi antara dunia usaha, asosiasi industri, dan pemerintah dalam menghadapi era energi terbarukan. Dengan pendekatan berbasis pelatihan, sertifikasi, dan kemitraan industri, langkah ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
(HR)
